Kamis, 27 Oktober 2016

Praktikum 4

CAPPING BETON SILINDER



REFERENSI:
ASTM C617-Capping Cylindrical COncrete Specimens

TUJUAN:
Pembuatan capping beton dengan belerang atau senyawa capping lainnya.. Capping dilakukan dalam rangka mempersiapkan spesimen beton silinder untuk pelaksanaan pengujian kuat tekan. Pemberian capping diperlukan untuk memastikan distribusi beban aksial yang merata keseluruh bidang tekna beton silinder.

PENJELASAN UMUM:
Praktikum ini memberikan permukaan yang datar pada ujung perukaan silinder beton sebelum dilakukan pengujian kuat tekan.

ALAT:
a. Cetakkan capping yang memiliki ukuran yang sesuai dengan dimensi spesimen
b. Alat untuk mencairkan belerang yang dilengkapi dengna pemanasan api

PROSEDUR:
a. Siapkan serbuk belerang atau senyawa capping, pemanas dengn suhu smapai 130 derajat celcius, dan termometer logam untuk memriksa suhu
b. lelehkan serbuk belerang atau senyawa capping
c. setelah menjadi cair, aduk belerang cair sebelum dituangkan kedalam cetakan capping
d. Tuangkan belerang cair ke dalam cetakan kemudian letakkan beton dengna kedua tangan di atasnya. pastikan ujung silinder beton sebelum diletakkan dalm cetakan dalam keadaan kering
e. langkah ke-4 harus dilakukan dengan cepat sebelum sulfur cair membeku
f. ketebalan capping harus 3 mm dan tidak lebih 8mm
g. sebelum dilakukan uji tekan, capping harus didiamkan dahulu agar memiliki kekuatan yang sebanding dengan beton






Praktikum 3.1

PEMBUATAN BETON: K-250


Data-data yang akan dipakai dalam campuran beton
KRITERIA BETON TIPE K-250


1. Siapkan semua material campuran beton



2. campurkan semua campuran beton sesuai dengan data ang sudah didapat melalui perhitungan/tabel hitam di atas.
3. Lalu semua campuran di masukkan ke dalam mollen
NB: pada tahap ini didapat koreksi air. butuh penambahan sebanyak 2kg air lagi.


4. setelah itu uji slump dulu setinggi 10cm dalam perubahan nya terhadap slump saat dilepas




5. setelah semua kriteria beton terpenuhi lalu siapkan cetakan dan masukkan ke dalam bekistingnya untuk dicetak


6. lalu di vibraasi dengan alat nya (vibrator).. bisa dilakukan di dalam ataupun digetok di luarnya saja juga bisa agar benar2 padat dan menghindari porosi pada beton.

7. setelah semua selesai tandai beton dengan nama kelompok anda.


8. selesai.

Praktikum 3.2

PERAWATAN (CURING) BETON SILINDER



Referensi
ASTM C31-Making an Curing Concrete Test Specimens

Tujuan
membantu berlangsungnya reaksi kimia antara senyawa pembentuk beton

Penjelasan Umum
Praktikum ini memberikan persyaratan standar pembuatan dan perawatan benda uji beton. Spesimen dapat digunakan untuk menentukan kekuatan untuk desain, kontrol kualitas, dan jaminan kualitas

Alat/Kondisi:
-Rungan lembab dengan kelembabn relatif tidak kurang dari 95%
-Bak yang diisi air kapur jenuh untuk curing

Benda Uji:
Beton Silinder(6 buah)

Prosedur:
Masukkan beton yang telah jadi ke dalam bak curing.

Berikut catatan terlampir dari asdos(kak willy apriyanto).




Senin, 24 Oktober 2016

DASAR TEKNOLOGI BAJA

Rangkaian Proses Pembuatan Baja
Biji Besi
biji besi merupakan mineral besi yang masih mengandung kotoran(senyawa selain Fe).
contoh dari mineral biji besi:  Hematit, Magnetit, Limonit. diantara biji besi tersebut yang paling banyak digunakan dalam pembuatan baja adalah hematit. karena hematit kandungannya sampai 66%, dan kadar kotoran didalamnya juga rendah. Dalam proses pembuatan baja, hematit akan dimasukkan ke dalam blast furnance fungsinya agar biji besinya melebur.

Proses Pembuatan Baja

secara kimianya begini:

proses pembuatan baja terdiri dari 2 metoda:
1. tanur tinggi (blast furnace)
Metoda tanur tinggi: digunakan arang yang bereaksi dengan oksigen akan menghasilkan gas reduktor yaitu karbon monoksida(CO). setelah diperoleh gas CO lalu direaksikan dengan Biji besi sehingga akhirnya menghasilkan besi murni. Namun sesungguhnya besi yang sudah didapat belum besi murni karena persentase kotoran karbonnya masih luayan besar (3-4.5)%, padahal sekarang ini palng tinggi kotoran karbon cuma 1% saja. untuk menghindari besarnya persentase kotoran itu digunakan batu kapur.

2. metoda reduksi langsung (direct reduction)
metoda reduksi langsung: digunakan gas alam sebagai bahan baku untuk menghasilkan gas CO. kandungan utama dalam gas alam itu CH4.
ketika CH4 nya dipanaskan sampai Suhu 900 derajat celcius dengan dibantu katalis Ni akan dihasilkan gas CO.
nah.. CO nya ini nanti direaksikan dengan biji besi(hematit) yang ujung-ujungnya akan dihasilkan besi murni.

dari kedua metoda diatas, metoda tanur tinggi lebih efisien dari pada metoda reduksi langsung.
faktanya besi murni yang dihasilkan diperoleh 80%nya dari metoda tanur tinggi dan 20% dari metoda reduksi langsung.


KONVERSI BESI KE BAJA

untuk mengkonversi besi ke baja ada beberapa metoda:
1. metoda BOF(Basic Oxygen Furnace)/BOS(Basic Oxygen SteelMaking).

bahan baku: besi murni, baja bekas, oksigen, batu kapur, metal(logam).
proses: campurkan -> panaskan -> baja cair.
baja cair dipindahkan ke ladle lalu didinginkan sehingga menjadi baja yang sebenarnya.

2. metoda EAF(Electric Arc Furnace)

metoda ini digunakan untuk membuat baja mutu tinggi.
bahan baku: besi murni, baja bekas, oksigen, batu kapur, metal(logam).
proses: masukkan baja bekas -> melting(lebur) -> tambahkan bahan baku lainnya(metal) -> di pindahkan ke tempat lain untuk didinginkan -> baja yang sebenarnya.

3. metoda secondary steel making

metoda ini digunakan untuk membuat baja yang lebih berkualitas.
dengan menambahkan beberapa bahan baku yaitu argon, injeksi powder, vacuum(pemanas tambahan).
adapun fungsinya yaitu mengurangi kadar oksigen dan sulfur.

CASTING

casting merupakan fase pencetakan baja. dengan metoda pengecoran baja dibentuk menjadi INGOT(balok/batang) atau SLAB(papan/gepeng).

PROSES PEMBUATAN PRODUK SETENGAH JADI
1. metoda HOT ROlling


2. metoda COLD ROLLING


3. metoda Hot forging


4. metoda hot tube piercing


5. pembuatan welded pipe


KLASIFIKASI DAN STANDARD
Pengelompokkan baja:
-baja karbon:
low: C<0.25%
medium: C=0.25=0.5%
high: C>0.5%

-baja paduan:
low: E < 8%
high: E > 8%

Standard:
AISI: american iron and steel institut
SAE: society of automotive engineers
ASME: american society of mechanical engineers
ASTM: american society for testing and materials
DIN: Deutsche industrie normen
JIS: japanese industrial standard

Klasifikasi dibuat menurut hal berikut:
1. proses pembuatan/bentuk produk
2. kekuatan
3. komposisi kimia
4. nomor standard tanpa pola tertentu


Senin, 17 Oktober 2016

Praktikum 2

RANCANGAN CAMPURAN BETON(Berdasarkan ACI Comittee 211)
Langkah 1: 
Pemilihan Nilai Slump
Langkah 2: Pemilihan Ukuran Maksimum Agregat KasarPemilihan ukuran maksimum agregat kasar dilakukan sebagai pembatasan struktural untuk penulangan dan pemadatan. Biasanya ukuran maksimum agregat kasar ditentukan dalam spesifikasi, tapi apabila tidak ditentukan dapat menggunakan persyaratan sebagai berikut:
  1. 1/5 jarak terkecil antara 2 tepi bekisting
  1. 1/3 tebal pelat
  1. 3/4 jarak bersih selimut beton
  1. 2/3 jarak bersih antar tulang
Langkah 3:Estimasi Kebutuhan Air Pencampur dan Kandungan UdaraJumlah air pencampur persatuan volume beton yang dibutuhkan untuk menghasilkan nilai slump tertentu sangat bergantuk pada ukuran maksimum agregat, bentuk serta gradasi agregat dan juga pada jumlah kebutuhan kandungan udara pada campuran. 

Langkah 4:
Pemilihan Nilai Perbandingan Air Semen
Hubungan rasio air semen dan kekuatan beton yang dihasilkan seharusnya dikembangkan berdasarkan material yang sebenernya yang digunakan dalam pencampuran. Sebelum memilih nilai a/s, sebaiknya kita tentukan terlebih dahulu nilai kuat beton rata-rata dengan cara:
fm = fc' + 1,64 Sd
fm : nilai kuat beton rata-rata
fc  : nilai kuat tekan karatkterisik (yang disyaratkan)
Sd : standar deviasi (dapat dilihat berdasarkan tabel dibawah ini). Standar deviasi dipilih berdasarkan kondisi dan letak pengerjaannya.

Setelah didapat nilai fm, maka langkah selanjutnya menentukan perbandingan air semen dengan melihat tabel di bawah ini.

Langkah 5:
Perhitungan Kandungan Semen
Berat semen yang dibutuhkan adalah sama dengan jumlah berat air pencampur (step 3) dibagi dengan rasio air semen (step 4). 

berat semen=  (berat air pencampur)/(rasio air semen)

Langkah 6:
Estimasi Kandungan Agregat Kasar
Untuk menentukan kandungan agregat kasar, terlebih dahulu kita tentukan Modulus Kehalusan dari agregat. Semakin halus pasir dan semakin besar ukuran maksimum agregat kasar, semakin banyak volume agregat kasar yang dicampurkan untuk menghasilkan campuran beton dengan kelecakan (workabilitas) yang baik.Volume agregat kasar per 1 m3 beton adalah sama dengan fraksi volume yang didapat dari tabel dibawah ini. Volume ini kemudian dikonversikan menjadi berat kering agregat kasar dengan mengalikannya dengan berat isi kering dari agregat yang dimaksud.

BAK = MAK x VAK x Fk
BAK : Berat Agregat Kasar
MAK : Massa Agregat Kasar
VAK : Volume Agregat Kasar
Fk : Faktor Koreksi

Langkah 7:
Estimasi Kandungan Agregat Halus
Pertama, tentukan terlebih dahulu berat jenis beton segar dengan menggunakan Ukuran Maksimum Agregat.

Langkah 8:
Koreksi Kandungan Air pada Agregat
Karena dalam step sebelumnya agregat diasumsikan dalam kondisi SSD, maka kandungan air di dalamnya harus dikoreksi. 
BAK koreksi = BAK + ( BAK x Daya Serap Air Agregat Kasar )
BAH koreksi = BAH + ( BAH x Daya Serap Air Agregat Halus )

Langkah 9:
Koreksi Berat Air

ANALISIS DAN HASIL:

Berat Air koreksi = BBS - BAK koreksi - BAH koreksi - Semen



Praktikum 1

Peraktikum ini dilakukan pada  Tanggal 30 September 2016

1. Pemeriksaan Berat Volume Agregat
Referensi:
ASTM C29- Bulk Density (Unit Weight) and Voids in Aggregate
SNI 03-4804-1998-Metode Pengujian Berat Isi dan Rongga Udara dalam Agregat
Tujuan:
Menghitung berat volume agregat halus, kasar, atau campuran.
Penjelasan Umum:
Berat volume agregat digunakan untuk menentukan proporsi agregat yang digunakan dalam campuran. Berat volume agregat diartikan adalah perbandingan antara berat material kering dengan volumenya.
Alat:
a. Timbangan dengna ketelitian 0.1% berat contoh
b. Talam kapasitas cukup besar untuk meringankon contoh agregat
c. Tongkat pemadat diameter 15mm, panjang 60cm yang ujungnya bulat, terbuat dari baja tahan karat
d. Mistar perata
e. Sekop
f. Wadah baja yang cukup berbentuk silinder dengan alat pemegang sesuai dengan tabel.
Benda Uji:
Agregat halus dan kasar
Prosedur:
Masukkan agregat ke dalam talam sekurang-kurangnya sebanyak kapasitas wadah sesuai dengan tabel pada foto. Keringkan dengan oven, suhu pada oven (110+/-5)oC sampai berat menjadi tetap untuk digunakan sebagai benda uji.
1. Berat isi lepas
a. Timbang dan catat wadah
b. Masukkan benda uji dengan hati-hati agar tidak terjadi pemisahan butir-butir dari ketinggian 5cm di atas wadah dengan menggunakan sendok atau sekop sampai penuh
c. Ratakan permukaan dengan mistar atau jika tidak ada dengan tongkat pemadat.
d. Timbang dan catat berat wadah beserta benda ujinya(w2)
e. Hitung berat benda uji (w3=W2-W1)
2. Berat isi agregat ukuran butir maksimum 38,1 mm dengan cara penusukan.
a. Timbang dan catat berat wadah(W1)
b. Isilah wadah dengan benda uji dalam 3 lapis yang sama tebal. Setiap lapis dipadatkan dengan tongkat pemadat yang ditusukkan sebanyak 25 kali secara merata
c. Ratakan benda uji dengan tongkat atau mistar
d. Timbang dan catat berat wadah sekaligus benda ujinya
e. Hitung berat benda uji(W3=W2-W1)
3. Berat isi agregat ukuran butir antara 38,1mm – 101,1mm dengan cara penggoyangan
a. Timbang dan catat wadah(W2)
b. Isi wadah dengan benda uji dengan 3 lapis yang sama tebal
c. Padatkan setiap lapis dengan cara menggoyangkan wadah dengan prosedur sbb:
- Letakkan wadah diatas tempat yang kokoh dan datar, angkat salah satu sisinya setinggi 5cm lalu digoyangkan
- Ulangi peristiwa diatas untuk sisi yang lain
- Dan seterusnya
d. Ratakan benda uji dengan mistar atau tongkat pemadat
e. Timbang dan catat berat benda wadah dan isinya(W2)
f. Hitung berat benda uji(W3=W2-W1)

Analisis dan Hasil:

2. Analisis Saringan Agregat Halus dan Agregat Kasar
Referensi:
ASTM C136-Sieve Analysis of Fine and Coarse Aggregates
SNI 03-1968-1990-Metode Pengujian Tentang Analisis Saringan Agregat Halus dan Kasar
Tujuan:
Menentukan distribusi ukuran partikel dari agregat halus dan agregat kasar dengan uji saringan
Penjelasan Umum:
Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk menentukan distribusi butiran agregat. Data distribusi butiran agregat diperlukan dalam perencanaan adukan beton. Pelaksanaan gradasi ini dilakukan pada agregat halus dan kasar.
Alat:
a. Timbangan dan neraca dalam ketelitiann 0.2% dari berat benda uji
b. Satu set saringan dengan ukuran pada foto dibawah(analisis dan hasil)
c. Oven dengna pengatur suhu dan pemanasan hingga (110+/-5)oC
d. Alat pemisah
e. Mesin penggetar saringan/manual(dengan tangan)
f. Talam-talam
g. Kuas, sikat kawat, sendok, dll
Benda Uji:
benda uji diperoleh dari alat pemisah. Berat benda uji disesuaikan dengan ukuran diameter max agregat kasar yang digunakan pada foto analisis dan hasil.
Prosedur:
a. Keringkan agregat sampel tes dengan berat yang telah ditentukan pd suhu yang sudah ditentukan diatas, lalau dinginkan pada temperatur ruangan
b. Timbangan kembali berat sampel agregat yang digunakan
c. Persipkan saringan yang akan digunakan
d. Setelah disusun, letakan sampel agregat diatas saringan
e. Goyangkan saringan dengan tangan/mesin
f. Hitung berat agregat pada masing-masing saringan
g. Total berat agregat setelah dilakukan saringan dibandingkan dengan berat semula. Jika perbedaannya lebih dari 0.3% dari berat semula sampel agregat yang digunakan, hasilnya tidak dapat digunakan.
Analisis dan Hasil:
a. Hitung persentase berat agregat yang lolos dan tertahan
b. Plotkan kurva gradasi
c. Hitung Mf(modulus kehalusan)


3. Pemeriksaan Kadar Organik dalam Agregat Halus
Tujuan:
Mengetahui kadar organik yang terkandung dalam agregat halus. Kandungan organik yang melebihi batas yang diijinkan dapat mempengaruhi mutu beton yang direncanakan
Menurut persyaratan, kadar orgnaik diijinkan sesuai percobaan warna dari Abrams-Harder dengna larutan NaOH(3%). Penggunaan agregat halus yang tidak sesuai dengan persyaratan dilakukan dengan syarat kekuatan tekan beton umur 28 hari yang dihasilkan dengan menggunakan agregat halus tersebut tidak kurang dari 95% dari kekuatan beton yang sama tetapi dengan agregat yang standard, pada umur yang sama.
Alat:
a. Botol gelas tembus pandang dengna penutup karet atau gabus atau bahan penutup lainnya yang tidak bereaksi dengan NaOH. Volume gelas = 350ml
b. Standar warna (Organik Plate)
c. Larutan NaOH(350)
Benda Uji:
Contoh pasir dengan volume 115ml(1/3 volume botol)
Prosedur:
a. Masukka 115ml pasir ke dalam botol tembus pandang(kurang lebih 1/3 isi botol)
b. Tambahkan larutan NaOH 3%. Setelah dikocok, isinya harus mencapai kira-kira % volume botol
c. Tutup botol gelas tersebut dan kocok hingga lumpur yang menempel pada agregat nampak terpisah dan biarkan selama 24 jam agar lupur tersebut mengendap
d. Setelah 24 jam, bandingkan warna cairan yang terlihat dengan standar warna No. 3 pada organik plate (bandingkan apakah lebih tua atau lebih muda)


4. Pemeriksaan Kadar Lumpur dalam Agregat Halus
Tujuan:
Menentukan besar persentase kadar lumpur dalam agregat halus yang digunkan dalam campuran beton. Kandungan lumpur <5% = ketentuan bagi penggunaan agregat halus untuk pembuatan beton
Alat:
a. Gelas ukur
b. Alat pengaduk
Benda Uji:
Contoh pasir secukupnya dalam kondisi lapangan dengan bahan pelarut biasa
Prosedur:
a. Benda uji dimasukkan ke dalam gelas ukur
b. Tambahkan air dalam gelas ukur guna melarutkan lumpur
c. Gelas dikocok untuk mencuci agregat halus dari lumpur
d. Simpan gelas pada tempat ynag datar dan biarkan lumpur mengendap setelah 24 jam
e. Ukur tinggi pasir(V1) dan tinggi lumpur(V2)
Analisis dan Hasil:
Kadar Lumpur=V2/(V1+V2)  X 100%
   



 SETELAH 24 JAM

5. Pemeriksaan Kadar Air Agregat
Referensi:
SNI 03-1971-1990-Metode Pengujian Kadar Air Agregat
Tujuan:
Menentukan besarnya kadar air yang terkandung dalam agregat dengan cara pengeringan. Kadar kering agregat adalah perbandingan antara berat agregat dalam kondisi kering per berat semulanya dikali 100%. Nilai ini digunakan untuk koreksi takaran air untuk adukan beton yang disesuaikan dengan kondisi agregat di lapangan
Alat:
a. Timbangan dengan ketelitian 0.1% berat contoh
b. Oven denga T hingga (110+/-5)oC
c. Talam logam tahan karat berkapasitas cukup besar bagi tempat pengeringan benda uji
Benda Uji:
Berat minimum contoh agregat dengan diameter max 5mm adalah 0.5kg
Prosedur:
a. Timbangan dan catat berat talam(W1)
b. Masukkan benda uji ke dalam talam, lalu berat talam dan benda ujinya ditimbang(W2)
c. Hitung berat benda uji(W3=W2-W1)
d. Keringkan contoh bend uji bersama talam dalam oven pada T(110+/-5)oC hingga beratnya tetap
e. Setelah kering contoh ditimbang dan dicatat berat benda uji beserta talam(W4)
f. Hitung berat benda uji kering(W5=W4-W1)
Analisis dan Hasil:
kadar air dalam agregat=(W3-W5)/W5  X 100%


6. Berat Jenis dan Penyerapan Agregat

AGREGAT HALUS
Referensi:
ASTM C128-Spesific Gravity and Absorption of Fine Aggregate
SNI 03-1970-1990-Metode Pengujian Berat Jenis dan Penyerapan Air Agregat Halus
Tujuan:
Menentukan spesific gravity(sg) dan penyerapan agregat halus. Dari sg dapat menentukan nilai bulk spesific gravity, bulk spesific gravity SSD, atau apprent spesific gravity
Penjelasan Umum:
Nilai bulk spesific gravity adalah karakteristik umum yang digunakan untuk menghitung volume yang ditempatkan oleh agregat dalam berbagai campuran, termasuk semen, beton, aspal, dan campuran lainnya yang proporsional
Alat:
a. Timbangan dengan ketelitian 0.1 gram atau kurang yang mempunyai kapasitas minimum sebesar 1000 gram atau lebih
b. Piknometer dengan kapasitas 500gram
c. Cetakan krucut pasir
d. Tongkat pemadat dari logam untuk cetakan krucut pasir
Benda Uji:
Berat contoh agregat halus disiapkan sebanyak 1000gr. Contoh diperoleh dari bahan yang diproses melalui alat pemisah atau perempatan
Prosedur:
a. Agregat halus yang jenuh air dikeringkan sampai diperoleh kondisi kering dengan indikasi contoh tercurah dengan baik
b. Sebagian dari contoh dimasukkan kedalam metal sand cone mold. Benda uji dipadatkan dengan tongkat pemadat (tamper). Jumlah tumbukan 25x. Kondisi SSD diperoleh, jika cetakan diangkat, butir-butir pasir longsor/runtuh
c. Contoh agregat halus sebesar 500gr dimasukkan ke dalam piknometer. Lalu piknometer diisi air hingga 90%. Bebaskan glembung udara dengan digoyangkan, redamlah piknometer dengna T air(73,4+/-3)oF selama 24jam. Timbang berat piknometer yang berisi contoh dengan air.
d. Pisahkan benda uji dari piknometer dan keringkan pd T(213+/-130)oF. Langkah ini diselesaikan dalam 1 hari
e. Timbanglah berat piknometer yang berisi air sesuai dengan kapasitas kalibrasi pd T(73,4+/-3)oF dengna ketelitian 0,1gr
Analisis dan Hasil:
Apparent Spesific Gravity=E/(E+D-C)
Bulk Spesific Gravity kondisi kering=E/(B+D-C)
Bulk spesific gravity kondisi SSD=B/(B+D-C)
Persentase absorpsi =(B-E)E x 100%
Dimana:
A=Berat piknometer
B=Berat contoh kondisi SSD
C=Berat piknometer+contoh air
D=Berat piknometer+air
E=Berat contoh kering


AGREGAT KASAR
Referensi:
ASTM C127-Spesific Gravity(sg) and Absorption of Coarse Aggregate
SNI 03-1969-1990-Metode Pengujian Berat Jenis dan Penyerapan Agregat Kasar
Tujuan:
Menentukan sg dan penyerapan agregat kasar. Dari spesific gravity dapat menentukan nilai bulk spesific gravity SSD, atau apparent spesific gravity
Penjelasan Umum:
Nilai Bulk Spesific gravity merupakan karakteristik umum yang digunakan untuk menghitung volume yang ditempatkan oleh agregat dalam berbagai campuran, termasuk semen, beton aspal, dan campuran lainnya yang proporsional
Alat:
a. Timbangan dengan ketelitian 0.5 gr yang mempunyai kapasitas 5kg
b. Keranjang besi diameter 203.2mm dan tinggi 63.5mm
c. Alat penggantung keranjang
d. Handuk atau kain pel
Benda Uji:
Berat cpntph agregat disiapkan sebanyak 11L dalam keadaan kering muka (SSD). Contoh diperoleh dari bahan yang diproses melalui alat pemisah. Butiran agregat lolos saringan No. 4 tidak dapat digunakan sebagai benda uji.
Berat minnimum benda uji yang digunakan ditentukan berdasarkan ukuran max nominal
Prosedur:
a. Benda uji direndam selama 1 hari
b. Benda uji dikeringkan permukaanyya(SSD) dengan menggulungkan handuk pada butiran
c. Timbang sampel. Hitung berat kodisi SSD=A
d. Contoh benda uji dimasukkan kekeranjang dan direndam kembali di dalam air. T air dijaga (73.4+/-3)oF, lalu ditimbang, setelah dikeranjang digoyangkan didalam air utk melepaskan udara yang terperangkap. Hitung berat sampel kondisi jenuh=B
e. Sampel dikeringkan pada T(212-130)oF. Setelah diinginkan lalu ditimbang. Hitung berat sampel kondisi kering=C
Analisis dan Hasil:
Apparent Spesific Gravity=C/(C-B)
Bulk Spesific Gravity kondisi kering=C/(A-B)
Bulk spesific gravity kondisi SSD=A/(A-B)
Persentase absorpsi =(A-C)/C x 100%